Sebuah ruang kelas di Sekolah Menengah
Atas, disitulah pertama kali aku bertemu. Terasa asing ketika aku menatap satu
persatu teman baruku. Aku duduk di baris ketiga dari depan. Kuperhatikan satu
persatu teman-temanku dan mulai berkenalan. Aku menoleh ke barisan paling
belakang yang didominasi oleh anak laki-laki. Di pojok kanan ku ingat betul
seorang laki-laki memiliki poni lempar, berseragam putih-putih, dan wajahnya
sedikit kusam. Kesan pertama yang aku dapat bahwa ia anak nakal. Haha namun ia kini
menjadi teman paskibraku.
Bergeser ke kanan sedikit, paling belakang tepat
satu jalur dengan tempat dudukku, aku lihat temanku yang lain yang sedikit
lebih cerah dari yang sebelumnya. Entah mengapa, namanya dengan cepat ku hapal di
kepala (mungkin karena namanya pasaran atau memang sudah ada ketertarikan dari
awal padanya), walaupun aku sempat salah menyebut namanya dengan menyebutnya
Darius. Bermata sipit (bukan Cina) dan senyum selalu tersimpul di wajahnya.
Stak !! Berhenti sampai disitu. Setiap kaka senior menanyakan nama teman-teman2
baruku, namanya lah yang paling ku ingat betul. Seiring berjalannya waktu,
proses adaptasi pun terus berjalan. Sebelum semuanya berubah, bisa dibilang aku
cukup mengenalnya dan sering mengobrol. Ia pernah bercerita dengan bangganya
ketika ia khatam Qur’an. Sampai saat itu tidak ada yang ku rasakan spesial dari
dirinya. Ia sama seperti teman laki-laki ku yang lain.
Lima bulan berlalu, ada sedikit perasaan yag berubah
pada diriku untuknya. Suatu ketika ia mengantar ku pulang untuk mengambil baju
renang dan menunggu sebentar di dekat rumah dan mengantar ku kembali ke
sekolah. Mungkin itu tidak seberapa bagi orang lain, tapi menurutku itu sebuah
kebaikan yang ku dapatkan dari seorang teman yang baru saja ku kenal. Dua hari
setelah hari itu, aku bertemu kembali dengannya meski saat itu sekolah sedang
libur. Ada pekerjaan kelompok yang harus kami selesaikan. Ditengah-tengah kerja
kelompok, ia bercerita kepadaku sedikit tentang ibunya dan sedikit mengenai
rohisnya. Lagi-lagi aku mulai merasakan perasaan yang berbeda dan entah mengapa
ada sesuatu yang kurasakan spesial pada dirinya. Menurut penilaian ku, ia laki-laki
yang patuh pada ibunya dan terpancar dari wajahnya bahwa ibu dan keluarganya adalah
segalanya. Mungkin ini pandangan yang klise, toh semua orang dimana-mana pasti mengutamakan
keluarganya. Namun cara ia mengutamakan keluarganya lah yang membuat ia
berbeda. Bagaimana caranya ? Aku pun tidak tahu dan tidak bisa menjelaskannya
dengan kata-kata. Jika ingin dijelaskan pun pasti tidak akan mencapai definisi
yang sempurna. Terlebih lagi pada hari itu ia mau mengantarku pulang dengan
membawa barang tugas kelompok yang lumayan besar. Aku sudah berniat, ketika
sampai rumah aku ingin memberinya sesuatu sebagai tanda terima kasihku. Setibanya
di depan gang rumahku, aku minta ia untuk menunggu sebentar dan aku kembali
lagi dengan membawa sekotak susu bantal rasa vanilla. Aku berikan padanya dan
aku agak sedikit kaget karena ia begitu senang dan wajahnya ceria ketika
menerima susu tersebut sambil mengucapkan terima kasih. Lalu aku izin untuk masuk
ke rumah. Baru beberapa langkah aku berjalan, aku menoleh ke belakang dan betapa
senangnya aku ketika melihatnya sedang minum susu bantal tersebut dan tersenyum
kepadaku. Sejak hari itu, aku seakan memiliki semangat baru untuk pergi
sekolah. Pada hari itu mungkin semua bunga-bunga yang bermekaran singgah di
hatiku. Ya, aku merasakan apa yang juga semua orang pernah rasakan <3
Syifa Arifiana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar