Jumat, 31 Agustus 2012

30 Desember 2006 (1)


Sebuah ruang kelas di Sekolah Menengah Atas, disitulah pertama kali aku bertemu. Terasa asing ketika aku menatap satu persatu teman baruku. Aku duduk di baris ketiga dari depan. Kuperhatikan satu persatu teman-temanku dan mulai berkenalan. Aku menoleh ke barisan paling belakang yang didominasi oleh anak laki-laki. Di pojok kanan ku ingat betul seorang laki-laki memiliki poni lempar, berseragam putih-putih, dan wajahnya sedikit kusam. Kesan pertama yang aku dapat bahwa ia anak nakal. Haha namun ia kini menjadi teman paskibraku.
Bergeser ke kanan sedikit, paling belakang tepat satu jalur dengan tempat dudukku, aku lihat temanku yang lain yang sedikit lebih cerah dari yang sebelumnya. Entah mengapa, namanya dengan cepat ku hapal di kepala (mungkin karena namanya pasaran atau memang sudah ada ketertarikan dari awal padanya), walaupun aku sempat salah menyebut namanya dengan menyebutnya Darius. Bermata sipit (bukan Cina) dan senyum selalu tersimpul di wajahnya. Stak !! Berhenti sampai disitu. Setiap kaka senior menanyakan nama teman-teman2 baruku, namanya lah yang paling ku ingat betul. Seiring berjalannya waktu, proses adaptasi pun terus berjalan. Sebelum semuanya berubah, bisa dibilang aku cukup mengenalnya dan sering mengobrol. Ia pernah bercerita dengan bangganya ketika ia khatam Qur’an. Sampai saat itu tidak ada yang ku rasakan spesial dari dirinya. Ia sama seperti teman laki-laki ku yang lain.
Lima bulan berlalu, ada sedikit perasaan yag berubah pada diriku untuknya. Suatu ketika ia mengantar ku pulang untuk mengambil baju renang dan menunggu sebentar di dekat rumah dan mengantar ku kembali ke sekolah. Mungkin itu tidak seberapa bagi orang lain, tapi menurutku itu sebuah kebaikan yang ku dapatkan dari seorang teman yang baru saja ku kenal. Dua hari setelah hari itu, aku bertemu kembali dengannya meski saat itu sekolah sedang libur. Ada pekerjaan kelompok yang harus kami selesaikan. Ditengah-tengah kerja kelompok, ia bercerita kepadaku sedikit tentang ibunya dan sedikit mengenai rohisnya. Lagi-lagi aku mulai merasakan perasaan yang berbeda dan entah mengapa ada sesuatu yang kurasakan spesial pada dirinya. Menurut penilaian ku, ia laki-laki yang patuh pada ibunya dan terpancar dari wajahnya bahwa ibu dan keluarganya adalah segalanya. Mungkin ini pandangan yang klise, toh semua orang dimana-mana pasti mengutamakan keluarganya. Namun cara ia mengutamakan keluarganya lah yang membuat ia berbeda. Bagaimana caranya ? Aku pun tidak tahu dan tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Jika ingin dijelaskan pun pasti tidak akan mencapai definisi yang sempurna. Terlebih lagi pada hari itu ia mau mengantarku pulang dengan membawa barang tugas kelompok yang lumayan besar. Aku sudah berniat, ketika sampai rumah aku ingin memberinya sesuatu sebagai tanda terima kasihku. Setibanya di depan gang rumahku, aku minta ia untuk menunggu sebentar dan aku kembali lagi dengan membawa sekotak susu bantal rasa vanilla. Aku berikan padanya dan aku agak sedikit kaget karena ia begitu senang dan wajahnya ceria ketika menerima susu tersebut sambil mengucapkan terima kasih. Lalu aku izin untuk masuk ke rumah. Baru beberapa langkah aku berjalan, aku menoleh ke belakang dan betapa senangnya aku ketika melihatnya sedang minum susu bantal tersebut dan tersenyum kepadaku. Sejak hari itu, aku seakan memiliki semangat baru untuk pergi sekolah. Pada hari itu mungkin semua bunga-bunga yang bermekaran singgah di hatiku. Ya, aku merasakan apa yang juga semua orang pernah rasakan <3


Syifa Arifiana


Tidak ada komentar:

Posting Komentar